Cari Blog Ini

Sabtu, 30 Juni 2012

Peran Pemerintah dalam Menentukan Hari Kebudayaan


            Di Indonesia setiap tahunnya mempunyai hari raya besar dan peringatan yang secara rutin kita rayakan, banyak masyarakat yang selalu senang ketika datang hari hari itu untuk merayakannya. Tetapi disini saya mau mengulas tentang hari kebudayaan nasional di Negara kita yaitu Indonesia yang masih belum ditentukan harinya. Padahal saya rasa hari kebudayaan nasional perlu ditentukan mengingat di Negara kita memiliki banyak dan beraneka ragam kebudayaan.

            Dengan adanya hari kebudayaan nasional itu tentunya menimbulkan kesan bahwa Negara kita memang bangga memiliki banyak kebudayaan yang beragam. Menbudpar Jero Wacik mengusulkan bahwa hari kebudayaan nasional jatuh pada tanggal 5 Juli sebagai Hari Kebudayaan Nasional.  Alasannya adalah pada tanggal 5 Juli 1918, sepuluh tahun setelah kelahiran Budi Utomo (yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional), diselenggarakan Konggres Kebudayaan yang Pertama di Solo. Tetapi sampai kini masih belum tanggapan dari pemerintah mengenai hari itu.

Hari Batik Nasional ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, dan sampai saat ini kita masih selalu merayakannya. Tetapi ironis sekali jika hari kebudayaan nasional Indonesia belum ditentukan sampai saat ini, padahal batik adalah salah satu unsur budaya yang ada di Indonesia tetapi hari peringatannya sudah ditentukan lebih dahulu daripada hari kebudayaannya. Bila pemerintah tidak  mengurus segera masalah ini maka kebudayaan kita akan sulit lagi diperkenalkan oleh anak cucu kita kelak, jika dirayakan saja tidak pernah maka anak muda di masa mendatang juga akan kurang tertarik untuk melestarikannya. Banyak masyarakat penuh antusias untuk menentukan hari kebudayaan ini, misalnya seniman dan budayawan Bandung mengusulkan tanggal 7 November dijadikan sebagai Hari Kebudayaan  Nusantara. Usulan tersebut didasarkan pada tidak adanya apresiasi dan penanda terhadap kebudayaan nasional. Tanggal 7 November bertepatan dengan hari lahir almarhum WS Rendra. Deklarasi Hari Kebudayaan Nusantara akan dilakukan 7 November mendatang di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) dengan melibatkan budayawan dari seluruh Indonesia.

Lalu siapa yang harus disalahkan untuk masalah ini ? kita lihat sendiri bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah bolos member masukan dan pendapat untuk memperbaiki kebudayaan di Negara kita. Tetapi memang pemerintah lah yang tidak mau mendengar rakyatnya yang sudah susah payah mengeluarkan suara untuk kepentingan Negara kita. Maka dari itu mari kita budayakan untuk menjadi pemimpin yang baik dan mau mendengar suara orang banyak seperti pemimpin pemimpin hebat yang membawa Negara kita merdeka dahulu kala apalagi yang menyangkut kemajuan Negara kita.

Sumber:


Perkembangan Tari di Indonesia


Seperti kita ketahui, di era globalisasi ini banyak terjadi perubahan di berbagai aspek. Salah satunya di aspek kebudayaan yaitu tari-tarian. Dewasa ini, tari-tari tradisional mulai tenggelam dengan datangnya tari-tarian modern akibat dari adanya globalisasi.

            Di Indonesia sendiri, dampak dari perubahan kebudayaan ini sudah sangat terlihat. Dalam hal kebudayaan, indonesia mempunyai begitu banyak budaya khas dalam berbagai aspek, salah satunya yaitu tari-tarian. Tari tradisional indonesia begitu banyak seperti, tari jaipong, tari piring, tari saman dan masih banyak lagi. Di semua daerah mempunyai tari khas masing-masing.

            Dulu, sebelum era globalisasi ini masuk ke Indonesia hampir semua warganya bisa memperagakan tari-tarian khas daerahnya tersebut, bahkan mereka dengan bangga menarikan tari-tarian tersebut sebagai ciri khas daerah asalnya. Seiring dengan bergulirnya waktu, tari tradisional ini semakin hari semakin menghilang dengan munculnya tarian modern seperti break dances, cheerleaders, k-pop, dan lain sebagainya. Mereka justru  lebih bangga untuk mempelajari tari-tarian tersebut daripada mempelajari tari tradisional  khas kebudayaan negara mereka sendiri. Bahkan banyak yang menyebut kalau tari tradisional ini sudah “jadul” atau jaman dulu. Tanpa mereka ketahui bahwa tari tradisional ini memiliki banyak makna sesuai budaya daerah asal tarian tersebut, bahkan dulu tari-tarian ini digunakan untuk menyambut orang-orang penting di daerah tersebut.

            Remaja-remaja sekarang ini lebih suka mempelajari tari-tarian modern yang justru tidak sesuai dengan budaya indonesia, misalnya saja cheerleaders, tarian ini justru menggunakan pakaian-pakaian mini yang tidak sesuai dengan budaya indonesia yang rapi dan tertutup. Mereka lebih bangga menampilkan kelebihan tubuh mereka, bukan untuk menyampaikan makna seperti pada tari-tarian tradisional. Seperti pada saat ini, banyak remaja-remaja yang menggilai k-pop atau korean pop, dengan bangga mereka mengikuti gerakan-gerakan si boysband atau girlsband tersebut. Bahkan mereka rela berdesak-desakan hanya untuk mengantri tiket konser artis-artis korea tersebut, coba bayangkan saat ada penampilan tari tradisional ? antusias masyarakat justru sangat sedikit, padahal itu merupakan  kebudayaan bangsa sendiri yang harusnya justru kita lestarikan.

      Pemerintah seharusnya lebih peduli dengan keadaan ini, karena jika tari tradisional ini semakin terbelakang maka generasi-generasi muda mendatang akan semakin tidak mengetahui budaya tradisional ini. Sekarang ini, justru lebih banyak warna negara lain yang tertarik dengan tari-tarian ini dan ingin mempelajari tari tradisional dibanding masyarakat lokal, maka tidak heran bila suatu saat ada negara lain yang mengakui kebudayaan kita dan pada saat itulah baru kita sibuk mengakui kalau budaya itu milik negara kita.

Dangdut Budaya Asli Indonesia


Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah musik. Genre musik asli Indonesia salah satunya adalah “dangdut”. Ya, siapa yang tak tahu musik yang satu ini. Musik dengan sejuta sensasional di negeri ini.

Dangdut sendiri sudah ada di Indonesia sejak tahun 1940-an. Dangdut sendiri merupakan perpaduan musik India dan musik Melayu. Musik ini memiliki ciri khas sendiri yaitu pada alat musik yang dimainkannya yaitu tabla atau lebih dikenal dengan sebutan gendang yang dapat menghasilkan bunyi “ndut” sehingga dinamakan dangdut. Alunan musik ini membuat yang menyanyi dan mendengarkan akan senantiasa menggerakkan anggota badan mereka atau bergoyang.

Biasanya musik ini sering diadakan di acara pesta rakyat, resepsi pernikahan dan sebagainya. Penggemar musik ini biasanya adalah kalangan orang menengah kebawah, sedangkan orang menengah keatas biasanya gengsi untuk mendengarkan musik ini. Banyak orang yang menjudge kalau dangdut itu identik dengan goyangan yang heboh dan mengandung unsur pornografi, padahal sebenarnya tidak.

Dangdut yang dulu agak berbeda dengan sekarang, karena dulu lirik lirik lagunya lebih sopan dan bahkan banyak yang mengandung unsur dakwah seperti karya-karya raja dangdut Indonesia Rhoma Irama. Sedangkan dangdut yang ada sekarang kebanyakan lagunya berceritakan tentang selingkuh, dan bahasa yang digunakan biasanya kurang sopan. Dari segi lain, dangdut sebenarnya tidak menggunakan pakaian-pakaian mini seperti kebanyakan sekarang dengan goyangan-goyangan sensualnya sehingga menimbulkan kontroversi.

Dangdut yang indah tidak harus dengan pakaian mini, goyangan yang mengundang nafsu, atau hal-hal negatif lainnya. Cukup dengan suara yang merdu dengan cengkok-cengkok melayunya itu pendengar akan merasa terhibur mendengarkannya. Berbanggalah dengan musik dangdut ini, karena merupakan genre musik asli Indonesia.

Jumat, 29 Juni 2012

Budaya Buang Sampah di Indonesia


Mungkin kita sudah banyak yang tahu bahwa kebudayaan di Indonesia sangat banyak malah hamper belum semuanya terdata. Tapi tahukah anda bahwa selain budaya budaya yang indah dan bagus ada juga budaya yang harus kita hindari karena sangat tidak baik jika masih beredar dalam masyarakat. Misalnya saja budaya buang sampah sembarangan yang sudah sering masyarakat kita lakukan, setiap harinya ada saja yang masih buang sampah sembarangan padahal pemerintah sudah menyediakan tempat sampah di setiap sudut . Membuang sampah pada tempatnya sepertinya merupakan hal yang simpel tetapi sangat susah untuk dilakukan. Apalagi dengan budaya orang Indonesia yang masih sering membuang sampah sembarang. Mari kita mulai dengan diri kita sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya, kita ajari anak-anak untuk turut membuang sampah pada tempatnya, untuk membuat lingkungan yang bersih, indah dan sehat. Toh kita-kita juga kan yang akan merasakan dampaknya bila lingkungan sekitar kita kotor.

Indonesia dengan jumlah penduduk hingga 225 juta setiap hari menghasilkan sampah baik organik maupun anorganik dengan perbandingan jumlah hampir sama. Permasalahan utama adalah kesadaran masyarakat akan membuang dan memproses serta memilah sampah masih sangat rendah dengan didukung sistem pengelolaan sampah yang masih buruk.

Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia hingga mencapai 11,330 ton per hari. Jika diambil rata-rata maka setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0.050 Kg per hari. Jika jumlah sampah itu dihasilkan dalam hitungan hari tinggal dikalikan dengan tahun, maka sampah yang dihasilkan hingga mencapai 4.078.800 ton.

Sekarang kita tahu dari data diatas bahwa ternyata sekecil apapun sampah yang kita buang sembarangan dapat berakibat besar pada lingkungan kita, bahkan masalah ini lah yang salah satunya menjadi PR bagi pemimpin kita untuk mencari solusinya agar budaya ini tidak berlanjut dan semakin parah. Apalagi di Jakarta terkenal dengan banjirnya yang datang setiap tahun di karenakan oleh masalah sampah ini. Maka dari itu mari kita buang budaya yang jelek ini dan melestarikan budaya lain yang lebih baik untuk dilakukan.
Chrome Pointer